Proses belajar
mengajar (PBM) di perguruan tinggi sangat menentukan kualitas lulusan yang
dihasilkan oleh perguruan tinggi itu. Proses belajar mengajar yang bermutu
tinggi akan menghasilkan lulusan yang bermutu, sebaliknya jika mutu PBM rendah
akan mengakibatkan kualitas lulusan pun rendah pula. Meskipun diakui bahwa PBM
hanyalah salah satu faktor saja yang menentukan kualitas lulusan, namun faktor
PBM ini menempati urutan utama. Faktor lain yang sangat menentukan selain PBM
adalah kualitas input mahasiswa. Semakin tinggi kualitas input, maka dapat
diharapkan kualitas lulusan juga akan semakin baik. Akan sangat sulit
menghasilkan lulusan yang bermutu baik, jika mutu inputnya lebih baik. Ibarat
inputnya tembaga maka akan sulit menghasilkan produk setingkat emas. Mungkin
ibarat ini sangat ekstrim, sebab manusia tidak dapat disamakan dengan benda
mati. Maksud saya adalah jika input kurang berkualitas, maka PBM yang harus
diaplikasikan mampu mencetak lulusan yang bermutu baik agar dihasilkan mutu
lulusan yang baik. Para dosen harus bekerja keras – lebih keras – daripada jika
inputnya bermutu baik.
Namun demikian, dalam pengalaman saya sebagai dosen di suatu perguruan tinggi ada suatu fenomena yang cukup memprihatinkan di kalangan mahasiswa. Meskipun fenomena yang saya kemukakan ini tidaklah universal tetapi lebih kepada spesifik lokal saja. Dalam pengamatan saya, mahasiswa lebih suka kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sesuatu yang non-ilmiah seperti kegiatan minat dan bakat yang notabene didominasi oleh olahraga dan seni. Sangat jarang ada mahasiswa yang protes ketika dosennya dari tahun ke tahun materi yang diajarkan itu-itu saja, alias tidak mengikuti perkembangan ipteks. Berikut ini beberapa hal yang disukai oleh sebagian besar (?) mahasiswa.
Namun demikian, dalam pengalaman saya sebagai dosen di suatu perguruan tinggi ada suatu fenomena yang cukup memprihatinkan di kalangan mahasiswa. Meskipun fenomena yang saya kemukakan ini tidaklah universal tetapi lebih kepada spesifik lokal saja. Dalam pengamatan saya, mahasiswa lebih suka kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sesuatu yang non-ilmiah seperti kegiatan minat dan bakat yang notabene didominasi oleh olahraga dan seni. Sangat jarang ada mahasiswa yang protes ketika dosennya dari tahun ke tahun materi yang diajarkan itu-itu saja, alias tidak mengikuti perkembangan ipteks. Berikut ini beberapa hal yang disukai oleh sebagian besar (?) mahasiswa.
1 Dosen yang tidak pelit dalam memberi nilai
Dalam banyak hal, mahasiswa menyukai dosen yang tidak pelit dalam memberi nilai. Orientasi mahasiswa tipe ini hanyalah kepada nilai dan bukan kepada penguasaan materi perkuliahan. Mereka kurang peduli apakah materi yang diberikan oleh dosen bermutu atau tidak. Bagi mereka yang penting adalah mendapat nilai baik. Jika perlu dengan sedikit usaha mendapat nilai A. Inilah prinsip ekonomi yang diterapkan oleh mahasiswa, yaitu ”sedikit daya usaha mendapat nilai yang baik”. Mahasiswa tipe ini kurang peduli apakah dosennya mengajar serius, sering tidak masuk atau hanya bersenda gurau. Yang penting nilainya bagus. Nah, ada kecenderungan bahwa dosen yang sering tidak masuk akan memberikan nilai yang tinggi-tinggi. Nah, dosen tipe inilah yang banyak disukai oleh mahasiswa.
Saya sedikit memberikan ilustrasi tentang betapa ruginya sesungguhnya mahasiswa yang bertipe seperti ini. Saya ibaratkan bahwa perguruan tinggi sebagai penjual – dalam hal ini jasa pendidikan – sedangkan mahasiswa sebagai pembeli. Normalnya, pembeli akan merasa rugi jika yang dibelinya tidak sesuai dengan yang ditawarkan oleh penjual. Saya contohkan, jika anda membeli buah rambutan sebanyak 5 kg tetapi ternyata setelah ditimbang ulang beratnya hanya 4,5 kg apakah anda akan merasa senang? Tidak bukan? Nah, demikian pula seharusnya seorang mahasiswa sebagai pembeli jasa. Jika layanan yang diberikan oleh dosen tidak sesuai dengan yang ditawarkan oleh pemberi jasa, maka seharusnya mahasiswa protes. Misalnya, jika dosen sering tidak masuk, atau materinya kurang bermutu, mahasiswa seharusnya protes keras. Akan tetapi hal seperti ini jarang dilakukan oleh mahasiswa.
Dalam banyak hal, mahasiswa menyukai dosen yang tidak pelit dalam memberi nilai. Orientasi mahasiswa tipe ini hanyalah kepada nilai dan bukan kepada penguasaan materi perkuliahan. Mereka kurang peduli apakah materi yang diberikan oleh dosen bermutu atau tidak. Bagi mereka yang penting adalah mendapat nilai baik. Jika perlu dengan sedikit usaha mendapat nilai A. Inilah prinsip ekonomi yang diterapkan oleh mahasiswa, yaitu ”sedikit daya usaha mendapat nilai yang baik”. Mahasiswa tipe ini kurang peduli apakah dosennya mengajar serius, sering tidak masuk atau hanya bersenda gurau. Yang penting nilainya bagus. Nah, ada kecenderungan bahwa dosen yang sering tidak masuk akan memberikan nilai yang tinggi-tinggi. Nah, dosen tipe inilah yang banyak disukai oleh mahasiswa.
Saya sedikit memberikan ilustrasi tentang betapa ruginya sesungguhnya mahasiswa yang bertipe seperti ini. Saya ibaratkan bahwa perguruan tinggi sebagai penjual – dalam hal ini jasa pendidikan – sedangkan mahasiswa sebagai pembeli. Normalnya, pembeli akan merasa rugi jika yang dibelinya tidak sesuai dengan yang ditawarkan oleh penjual. Saya contohkan, jika anda membeli buah rambutan sebanyak 5 kg tetapi ternyata setelah ditimbang ulang beratnya hanya 4,5 kg apakah anda akan merasa senang? Tidak bukan? Nah, demikian pula seharusnya seorang mahasiswa sebagai pembeli jasa. Jika layanan yang diberikan oleh dosen tidak sesuai dengan yang ditawarkan oleh pemberi jasa, maka seharusnya mahasiswa protes. Misalnya, jika dosen sering tidak masuk, atau materinya kurang bermutu, mahasiswa seharusnya protes keras. Akan tetapi hal seperti ini jarang dilakukan oleh mahasiswa.
2. Dosen yang tidak terlalu kaku dalam menerapkan aturan
Oknum mahasiswa atau sebagian besar (?) menyukai dosen yang tidak terlalu kaku dalam menerapkan aturan. Artinya, mahasiswa sangat menyukai dosen yang sering memberikan kebijaksanaan – yang seringkali kebijaksanaan itu melanggar aturan–. Mahasiswa tipe ini tentunya cenderung kepada perilaku yang tidak disiplin seperti sering terlambat, sering tidak masuk kelas, tidak tahu mana yang harus diprioritaskan, kurang melaksanakan tugas dengan baik. Nah, ketika dosennya menerapkan aturan, maka mahasiswa menjulukinya sebagai ”dosen killer”. Perilaku yang tidak disiplin dalam menerapkan aturan akan membawa dampak negatif terhadap mutu lulusan. Tidak dapat dibayangkan jika mahasiswa tipe ini nantinya menjadi pemimpin. Celakanya, tidak semua dosen memang yang menerapkan aturan, sehingga di kalngan mahasiswa timbul fenomena seperti yang saya uraikan tadi. Seharusnya, mahasiswa dididik untuk berusaha sekuat tenaga menerapkan aturan yang berlaku. Hal ini bukan untuk membatasi gerak-gerik mereka tetapi lebih banyak mengarahkan perilaku mereka ke arah nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.
Oknum mahasiswa atau sebagian besar (?) menyukai dosen yang tidak terlalu kaku dalam menerapkan aturan. Artinya, mahasiswa sangat menyukai dosen yang sering memberikan kebijaksanaan – yang seringkali kebijaksanaan itu melanggar aturan–. Mahasiswa tipe ini tentunya cenderung kepada perilaku yang tidak disiplin seperti sering terlambat, sering tidak masuk kelas, tidak tahu mana yang harus diprioritaskan, kurang melaksanakan tugas dengan baik. Nah, ketika dosennya menerapkan aturan, maka mahasiswa menjulukinya sebagai ”dosen killer”. Perilaku yang tidak disiplin dalam menerapkan aturan akan membawa dampak negatif terhadap mutu lulusan. Tidak dapat dibayangkan jika mahasiswa tipe ini nantinya menjadi pemimpin. Celakanya, tidak semua dosen memang yang menerapkan aturan, sehingga di kalngan mahasiswa timbul fenomena seperti yang saya uraikan tadi. Seharusnya, mahasiswa dididik untuk berusaha sekuat tenaga menerapkan aturan yang berlaku. Hal ini bukan untuk membatasi gerak-gerik mereka tetapi lebih banyak mengarahkan perilaku mereka ke arah nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.
3. Dosen yang tidak membosankan baik di kelas maupun di luar kelas
Dosen memang harus membuat kelas menarik bagi mahasiswa, sehingga mereka menjadi tertarik dan tekun serta mampu memahami apa yang disampaikannya. Tidak mudah memang. Ada oknum dosen yang ketika akan mengajar tidak melakukan persiapan apa-apa. Dalihnya, kan saya sudah menguasai ilmu itu sebab dari tahun ke tahun yang saya ajar kan itu-itu saja. Anggapan ini kurang tepat, karena: 1) yang dihadapi oleh dosen pada setiap semester itu berbeda, yaitu berbeda mahasiswanya, berbeda situasinya dll; 2) ipteks selalu berkembang sehingga dosen seharusnya selalu mengikuti perkembangan ipteks itu; 3) metode pembelajaran yang diterapkan pada tahun lalu bisa jadi tidak cocok untuk tahun berikutnya; 4) dosen juga harus mengevaluasi PBM yang mereka lakukan dan kemudian melakukan perbaikan-perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
4. Dosen yang menghargai pendapat mahasiswa
Memang seharusnya demikian. Dosen di era globalisasi ini harus mampu mengubah sikap mereka yang dahulu bersikap feodalis menjadi domokratis. Dahulu mungkin dosen berfungsi sebagai memberi ilmu tetapi sekarang fungsi dosen adalah sebagai fasilitator. Di era teknologi informatika ini antara dosen dan mahasiswa tidak ada batas untuk mengakses informasi. Jadi, bisa jadi mahasiswa akan lebih menguasai dalam beberapa hal demikian pula sebaiknya. Oleh sebab itu, PBM yang diterapkan di era sekarang ini adalah saling transfer ilmu, dimana tentu saja dosen sebagai fasilitator harus mampu mengarahkan dan memberi masukan yang berharga bagi mahasiswa. Jadi, dosen dan mahasiswa bisa saja terlibat dalam suatu diskusi yang ramai. Ketika ada pendapat mahasiswa yang lebih benar atau lebih logis, maka sang dosen dengan senang hati menerimanya sebagai suatu masukan yang berharga baginya. Demikian pula sebaliknya mahasiswa. Jelas, disini diperlukan tipe dosen yang demokratis. Dosen sangat menghargai pendapat mahasiswa. Nah,. Dosen-dosen yang masih bertipe paradigma lama sebaiknya segera mengubah sikapnya.
Dosen memang harus membuat kelas menarik bagi mahasiswa, sehingga mereka menjadi tertarik dan tekun serta mampu memahami apa yang disampaikannya. Tidak mudah memang. Ada oknum dosen yang ketika akan mengajar tidak melakukan persiapan apa-apa. Dalihnya, kan saya sudah menguasai ilmu itu sebab dari tahun ke tahun yang saya ajar kan itu-itu saja. Anggapan ini kurang tepat, karena: 1) yang dihadapi oleh dosen pada setiap semester itu berbeda, yaitu berbeda mahasiswanya, berbeda situasinya dll; 2) ipteks selalu berkembang sehingga dosen seharusnya selalu mengikuti perkembangan ipteks itu; 3) metode pembelajaran yang diterapkan pada tahun lalu bisa jadi tidak cocok untuk tahun berikutnya; 4) dosen juga harus mengevaluasi PBM yang mereka lakukan dan kemudian melakukan perbaikan-perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
4. Dosen yang menghargai pendapat mahasiswa
Memang seharusnya demikian. Dosen di era globalisasi ini harus mampu mengubah sikap mereka yang dahulu bersikap feodalis menjadi domokratis. Dahulu mungkin dosen berfungsi sebagai memberi ilmu tetapi sekarang fungsi dosen adalah sebagai fasilitator. Di era teknologi informatika ini antara dosen dan mahasiswa tidak ada batas untuk mengakses informasi. Jadi, bisa jadi mahasiswa akan lebih menguasai dalam beberapa hal demikian pula sebaiknya. Oleh sebab itu, PBM yang diterapkan di era sekarang ini adalah saling transfer ilmu, dimana tentu saja dosen sebagai fasilitator harus mampu mengarahkan dan memberi masukan yang berharga bagi mahasiswa. Jadi, dosen dan mahasiswa bisa saja terlibat dalam suatu diskusi yang ramai. Ketika ada pendapat mahasiswa yang lebih benar atau lebih logis, maka sang dosen dengan senang hati menerimanya sebagai suatu masukan yang berharga baginya. Demikian pula sebaliknya mahasiswa. Jelas, disini diperlukan tipe dosen yang demokratis. Dosen sangat menghargai pendapat mahasiswa. Nah,. Dosen-dosen yang masih bertipe paradigma lama sebaiknya segera mengubah sikapnya.
5. Dosen yang penuh perhatian terhadap masalah/kesulitan mahasiswa
Salah satu tugas dosen adalah membimbing mahasiswa dari mulai masuk sampai mahasiswa lulus. Segala persoalan yang berkaitan dengan suksesnya mahasiswa harus mendapat perhatian dosen terutama dosen pembimbing. Dosen yang baik adalah dosen yang berusaha mengerti masalah yang dihadapi dan berusaha untuk mencari solusi yang tepat. Namun dalam prakteknya, mahasiswa sangat jarang berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. Saya tidak tahu alasan sebenarnya. Mungkin mereka segan, mungkin kurang sosialisasi, mungkin takut atau mungkin memang tidak mau berurusan dengan dosen, atau bahkan mungkin kurang percaya. Nah, hal-hal seperti ini harus mendapat perhatian para dosen agar mahasiswa bersedia untuk berkonsultasi untuk setiap masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh mahasiswa itu sendiri. Di satu sisi, mungkin dosen memang kurang perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh mahasiswa, atau terlalu sibuk, atau karena hal-hal lain. Oleh sebab itu, perlu adanya media komunikasi yang tepat untuk menjembatani mahasiswa-dosen.
Salah satu tugas dosen adalah membimbing mahasiswa dari mulai masuk sampai mahasiswa lulus. Segala persoalan yang berkaitan dengan suksesnya mahasiswa harus mendapat perhatian dosen terutama dosen pembimbing. Dosen yang baik adalah dosen yang berusaha mengerti masalah yang dihadapi dan berusaha untuk mencari solusi yang tepat. Namun dalam prakteknya, mahasiswa sangat jarang berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. Saya tidak tahu alasan sebenarnya. Mungkin mereka segan, mungkin kurang sosialisasi, mungkin takut atau mungkin memang tidak mau berurusan dengan dosen, atau bahkan mungkin kurang percaya. Nah, hal-hal seperti ini harus mendapat perhatian para dosen agar mahasiswa bersedia untuk berkonsultasi untuk setiap masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh mahasiswa itu sendiri. Di satu sisi, mungkin dosen memang kurang perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh mahasiswa, atau terlalu sibuk, atau karena hal-hal lain. Oleh sebab itu, perlu adanya media komunikasi yang tepat untuk menjembatani mahasiswa-dosen.
Saya yakin masih banyak hal-hal yang disukai oleh mahasiswa
tentang dosen. Kepada para mahasiswa mohon kiranya memberi masukan terhadap isi
tulisan ini. Semoga anda semua sukses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar