Selamat datang di Blog Perkuliahan Resmi Muhammad Irfai Sohilauw..disini kawan-kawan bisa mendapatkan semua informasi mengenai perkuliahan...

Senin, 26 Januari 2015

Mengapa Harus IPK di Atas 3?

IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif adalah angka yang menunjukkan kemajuan mahasiswa mulai semester awal hingga semester akhir. Nilai ini adalah rerata dari keseluruhan indeks prestasi yang didapat setiap semesternya, atau yang biasa dikenal dengan Indeks Prestasi Semester (IPS). Nilai tertinggi dari indeks prestasi adalah 4 dan terendah adalah 0.

Sekarang KampusNews mau tanya, kalian maunya minimal dapat nilai IP berapa setiap semesternya?

Menurut pengalaman dan pengamatan, KampusNews sarankan kalian memastikan dapat mencapai IP 3.00 setiap semesternya. Jadi IPK kalian juga minimal 3.00. Syukur kalau bisa 3.50 dan luar biasa kalau bisa 4.00.

Memangnya harus ya, seperti itu? Penting ya, dapat IPK di atas 3?

Bukan masalah penting atau nggak penting. Kelihatannya mahasiswa dengan IPK di atas atau di bawah 3 memang tidak berbeda di mata kalian saat ini. Kalian menghirup udara yang sama, makan juga sama-sama nggak kenyang kalau belum makan nasi, dan kalian sama-sama jomblo (mungkin). Tapi dengan memiliki IPK di atas 3, kalian sudah meringankan beberapa urusan yang akan kalian hadapi di kemudian hari. Jadi ini berhubungan dengan masa depan kalian.

Tapi kan, nilai bukan segalanya. Yang penting itu ilmunya. Soft skilljuga.

Yup, ilmu dari materi kuliah dan juga soft skill memang menjadi pegangan yang penting bagi masa depan kalian. Namun, anggaplah IPK ini sebagai syarat paling ‘nggak penting’ yang harus bisa kalian capai. Jangan sampai kalian yang sudah memiliki kemampuan lebih dan luar biasa ini harus gagal bersaing hanya gara-gara syarat IPK yang ‘nggak penting’ itu tidak tercukupi. Itu sama saja seperti kalian harusnya bisa menang lomba lari, tapi didiskualifikasi hanya gara-gara nggak pakai sepatu. Konyol banget kan?

Jadi untuk apa IPK di atas 3 itu?

Pastinya ini berkaitan dengan hal-hal yang menjadikan IPK sebagai syarat.
Beasiswa
Ya, sebagian besar beasiswa mensyaratkan IPK. Meskipun tidak semuanya meminta IPK di atas 3, tapi di bawah itu masih cukup sulit untuk dicari. Beasiswa yang mensyaratkan IPK ini biasanya adalah beasiswa kuliah. Hal ini lumrah mengingat maksud dari adanya beasiswa adalah memberikan uang kepada seseorang. Karena berhubungan dengan uang, pastinya tidak sembarang orang yang bisa mendapatkannya. Jangan sampai uang tersebut terbuang percuma karena penerima beasiswa tidak mampu mencapai ekspektasi penyedia beasiswa.
Biasanya penyedia beasiswa ingin penerima beasiswa itu berhasil dalam kuliahnya, sehingga selanjutnya penerima beasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya untuk kebaikan. Lha, kalau nilainya jeblok, bukankah itu artinya dia harus berusaha dua atau empat kali lebih keras untuk bisa memenuhi harapan penyedia beasiswa nantinya? Tak heran, beasiswa yang pemberian dananya berjangka waktu (misal: 4 tahun kuliah) juga mengharuskan penerima beasiswa untuk mempertahankan nilainya atau beasiswa dihentikan.
Pekerjaan
Sebagian besar pembuka lapangan pekerjaan mensyaratkan IPK . Umumnya, IPK yang dicari minimal 2.75 atau 3.00. Syarat seperti ini biasanya akan ada untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan pengetahuan. Yang namanya perusahaan, biaya dan keuntungan itu selalu menjadi pertimbangan, dan itu yang menyebabkan mereka mensyaratkan IPK.
Nilai IPK menggambarkan kemampuan/penguasaan seseorang dalam menyelesaikan permasalahan. Semakin tinggi nilainya, semakin ahli seseorang, atau paling tidak semakin mudah seseorang dalam mempelajari sesuatu. Itulah yang dipercaya oleh perusahaan. Perusahaan ingin meminimalisir biaya yang diperlukan sehingga pekerja ini bisa menghasilkan sesuatu untuk perusahaan. Untuk pemasukan yang sama, tentunya perusahaan lebih mencari orang yang bisa kerja dengan sedikit instruksi daripada orang yang harus dituntun dulu untuk melakukan ini dan itu.

Kedengarannya kejam dan tidak adil!

Seolah-olah buku yang dinilai dari sampulnya, sama juga kemampuan seseorang dilihat dari IPK-nya, padahal tidak selalu seperti itu. Kenyataannya juga masih banyak orang yang berhasil, tapi nilainya jeblok. Masih ada orang yang sukses meskipun akhirnya harus DO. Hei, mereka itu pengecualian. Memangnya kemampuanmu sama seperti mereka? Bukannya merendahkan, tapi bukankah lebih baik kalau bisa menjadi orang yang sukses tanpa mengesampingkan akademis?
Apapun itu, KampusNews akan selalu mendoakan agar nilai kalian bisa sesuai dengan harapan dan memuaskan. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar